Banyak Anak Banyak Rejeki Zonder Pendidikan

ilustrasi dari internet
Dalam film Lion (2016) ada percakapan yang menggetarkan saya, antara Sue (Nicole Kidman) dan Saroo (Dev Patel). Saroo menyangka Sue dan suaminya mengadopsi dirinya lantaran pasangan Australia tersebut tidak bisa melahirkan keturunan. "Ibu bisa saja punya anak. Tapi kami memilih tidak punya anak," tampik Sue. 

Malah salah satu alasan Sue menikahi John, pasangannya, karena mereka merasa sudah terlalu banyak manusia di muka bumi. Bagi Sue dan John, mengadopsi anak yang menderita karena kemiskinan orangtua mereka (yang begitu banyak jumlahnya di muka bumi ini), dan memberi mereka kesempatan hidup lebih baik, itu tindakan yang lebih bijak.

Berapa gelintir pasangan seperti Sue dan John di muka bumi ini? Rasanya langka sekali. Bagi saya sendiri, sekalipun bersepakat seratus persen dan luar biasa takzim dengan pilihan sikap Sue dan John, belum sanggup berpikir seperti pasangan ini. Saya, seperti kebanyakan orang Indonesia, menganggap tidak memiliki keturunan adalah aib. 

Orang-orang (sok) bijak menyarankan, jangan menyinggung soal anak kepada pasangan yang tidak memiliki anak. Karena hal itu sangat sensitif, serupa menyingkap cacat fisik dan mental, yang membuat perasaan terluka dan merasa jadi mahkluk paling malang di dunia. 

Tengoklah, berbagai cara ditempuh pasangan yang tidak punya anak untuk memiliki anak. Bagi pasangan berada, biaya yang dikeluarkan bisa ratusan juta. Bagi kebanyakan pasangan di negeri ini, jangankan berpikir betapa banyaknya anak-anak terlantar di luar sana yang perlu diadopsi, dididik, dan dicintai, memberi kesempatan mereka hidup lebih baik. 

Malah yang sudah punya keponakan bejibun pun, yang perlu dibantu dibiayai hingga kuliah misalnya, tidak pernah menyurutkan keinginan mereka untuk punya anak kandung sendiri. Tak ada urusan dengan manusia yang sudah banyak, dengan beban bumi yang terus bertambah, dengan rebutan lahan hingga memicu peperangan. 

Memiliki anak sendiri seakan menjamin keadaan lebih baik. Limpahan kasih sayang yang tulus seakan hanya untuk anak yang mereka lahirkan dari benih dan rahim sendiri, tapi tentu saja dan terutama untuk menjawab pertanyaan dari kawan-kawan saat reuni. Tak memiliki kesiapan mental, waktu, dan biaya untuk mendidik serta memberikan kehidupan yang layak kepada calon manusia itu bukan halangan untuk membuat dan memiliki keturunan.

Berkembang biak memang fitrah manusia. Sejauh yang saya tahu seluruh agama juga mengajarkan umatnya untuk memiliki keturunan yang banyak guna meneruskan kabar dari Tuhan kepada seluruh umat manusia di muka bumi. Dalam Islam misalkan, banyak hadits dan ayat Qur'an yang ditafsirkan sebagai anjuran memiliki banyak anak, atau sekurangnya menepis kekhawatiran kekurangan rezeki lantaran memiliki anak. 

Malah ada hadits yang menganjurkan seorang suami menikah lagi demi memperoleh keturunan. Ajaran Kristen demikian pula, bahwa memiliki anak adalah hal yang baik. Tak heran dalam masyarakat kita anggapan banyak anak banyak rezeki menjadi lestari. Para pendakwah dengan semangat berkobar menganjurkan umat mempunyai anak banyak-banyak. 

Program Keluarga Berencana difatwa haram karena membatasi kelahiran anak. Tentu saja tidak salah dengan ajaran agama-agama tersebut. Tetapi yang perlu diingat, anjuran tersebut diturunkan ketika bumi masih lapang. Ketika manusia masih jarang. Sumber daya alam masih melimpah untuk menopang kehidupan manusia.

Kondisi bumi kita tercinta dan satu-satunya kini sudah jauh berubah. Manusia sudah begitu melimpah, sementara bumi makin renta, sumber-sumber alamnya makin menipis. Coba pikirkan, saat ini jumlah penduduk di dunia telah mencapai 7 miliar jiwa. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, jumlah tersebut sudah over populasi. Bumi sudah tidak mungkin melar lagi seperti saat baru tercipta. 

Sejujurnya, pikiran saya di atas mengiang kencang di kuping kesadaran saya ketika saya selama beberapa hari kemarin menghadiri peringatan Hari Keluarga Nasional di Bandar Lampung. Ini memang program badan pemerintah, tapi tolong jangan alergi dulu. Badan pemerintah yang dahulu kala, saat masa rezim Orde Baru berkuasa, memiliki slogan yang sangat populer diiklankan di mana-mana: Dua Anak Cukup. 

Terus terang, bagi saya —dan sekarang saya mendakwahkannya kepada Anda— satu-satunya program pemerintah Orba yang patut diapresiasi adalah program Keluarga Berencana. Sayangnya, seperti Anda tahu, program ini terabaikan sejak reformasi bergulir. Sekelompok masyarakat dan partai Islam malah terang-terangan menentang program yang membatasi dan mengatur jarak dan jumlah kelahiran anak ini, dengan argumen yang berlatar ideologi agama.

Didukung para pendakwah konservatif mereka mengkhotbahkan bahwa rezeki setiap anak sudah dijamin Allah. Program Keluarga Berencana dianggap tidak percaya Tuhan Maha Pemberi Rezeki. Mereka lupa bahwa tanpa dijemput dengan strategi dan ilmu pengetahuan, rezeki itu tak akan datang. Bagaimana kita mampu membekali anak-anak kita dengan ilmu pengetahuan apabila kita cuma sanggup memberi mereka makan zonderbekal pendidikan?

Benar bahwa kemiskinan yang melanda banyak keluarga di negeri tercinta ini lantaran adanya kerakusan sistemik dari sebagian masyarakat kita. Mengutip kata-kata Mahatma Gandhi, "Bumi memiliki kapasitas untuk menampung semua jumlah orang, namun tidak cukup untuk menampung keserakahan umat manusia."

Tapi, mohon jangan diingkari fakta: bagaimana kita punya waktu mendidik dan menyadarkan keluarga kita tentang adanya kerakusan kalau kita terlalu sibuk ngobyek sana ngobyek sini lantaran tuntutan kebutuhan anak-anak yang terus lahir saban tahun? 

esai ini disiarkan pertama kali oleh detik.com 25 juli 2017

Comments