Obrolan CEO

ilustrasi dari internet
Kami berada di lantai tertinggi sebuah gedung di salah satu kawasan paling prestisius di Ibu Kota. Dari sini kami  dapat melihat kesibukan Ibu Kota di bawah sana. Jalan raya yang serupa ular dan kendaraan merayap pelan seperti mobil-mobilan di atasnya. Presiden direktur salah satu perusahaan properti terbesar di Tanah Air yang akan kami wawancarai berkantor di sini. Kami telah membuat janji untuk wawancara dia guna keperluan penulisan buku kumpulan profil direktur utama perusahaan. Sembari menunggu kami mengamati ruangan yang luasnya cukup untuk dibikin beberapa lapangan futsal. Yang paling menarik perhatian kami adalah maket proyek kota terpadu yang sedang dan telah dikerjakan perusahaan properti tersebut. Apartemen, kondominium, mal, hotel, resort, lengkap dengan kolam renang dan lapangan golf, perkantoran, dan kompleks sarana hiburan. Beberapa lama kemudian orang yang kami tunggu muncul.
Dia adalah orang ke 13 yang kami wawancara dari sejumlah presiden direktur atawa direktur utama, atawa Chief Executive Officer (CEO),  yang kami rencanakan tulis profilnya. Sekadar info, kami terdiri dari tiga orang: aku, seorang fotografer, dan pilot project penulisan buku ini.  Tidak semua dirut yang kami wawancara memberikan obrolan yang asyik. Malah sangat jarang yang mampu menjawab dengan tepat pertanyaan mengenai pengelolaan organisasi pada masa depan. Direktur utama perusahaan properti yang kami temui pada pertengahan Ramadan lalu itu termasuk yang paling kaku dan tak mampu menangkap dengan baik maksud beberapa pertanyaan kami. Sehingga alih-alih jadi obrolan yang asyik, wawancara berubah bak sesi interogasi yang membosankan. 
Selain pendek-pendek dan normatif, cara dia menjawab juga selalu tersendat. Setiap hendak menjawab selalu diawali dengan eu eu eu yang panjang dan terasa agak melelahkan. Seakan begitu sulitnya pertanyaan kami. Dari riwayat hidupnya yang kami baca, dia memang sejak remaja di luar negeri, tapi kami rasa bukan karena itu ia tidak fasih berbahasa Indonesia. Pada topik yang menyangkut kegemaran pun, ia menjawab dengan lugu. Agak naif untuk seorang direktur utama sebuah perusahaan dengan aset ratusan triliunan. Jawaban yang mencerminkan kekurangdalaman cara pandang dan wawasan.  
Sebagian orang memang tidak mampu mengungkapkan gagasan dengan kalimat-kalimat panjang yang baik atawa runtut. Sehingga untuk menghadapi tipe ini, kami harus menggunakan trik khusus, misalnya dengan cara lebih agresif, memancing dari berbagai sisi. Tetapi yang kami hadapi tampaknya lebih sulit dari itu. Segala kalimat pertanyaan untuk memancing jawaban lebih berisi, tak mampu menolong. Mengherankan juga. Bagaimana ketika ia memimpin rapat, menyampaikan gagasan kepada bawahannya. Hmm …
Beberapa gelintir dirut yang amat lincah menjawab wawancara kami adalah dirut sebuah perusahaan agrikultur. Usianya awal 40-an. Ia akan menjawab tidak sekadar panjang lebar untuk setiap pertanyaan kami, tetapi juga sangat berisi dan memberi wawasan baru bagi kami. Dia begitu sigap menangkap setiap pertanyaan dan memberi jawaban yang sangat memuaskan. Tapi yang lebih menggembirakan kami, dia seorang yang humanis. Dia terlibat aktif di berbagai kegiatan kemanusiaan sejak sekolah di Amerika Serikat. Di Indonesia dia punya lembaga sosial yang getol memberi pelatihan wirausaha  dan beasiswa.
Tiga tipe
Sejauh yang aku amati, sekurangnya kalau boleh disederhanakan ada tiga tipe dirut yang kami wawancara. Pertama tipe narsis: ini tipe yang sangat antusias ikut dalam proyek penyusunan buku ini lantaran ingin tampil atawa menunjukkan bahwa dirinya seorang CEO yang layak dicatat dan diteladani. Cirinya, mereka amat memberi perhatian pada sesi pemotretan. Asisten pribadi mereka akan menyiapkan lebih dari satu setel pakaian. Malah, mereka lebih mendahulukan sesi pemotretan  ketimbang wawancara. Semua dirut yang profilnya ditulis di buku ini pada dasarnya memiliki motif narsis. Yang membedakannya hanya porsi. Dirut perusahaan agrikultur adalah salah satu orang yang agak mengabaikan penampilan, namun mengedepankan ketajaman gagasan. Waktu  pertama kali melihatnya, aku tidak terlalu yakin ia seorang dirut. Bukan karena usianya yang masih muda, tapi parasnya yang polos atawa innocence. Bertemu orang tipe ini bagiku membuat kerja-kerja wawancara dan penulisan jadi lebih mengasyikan karena tidak perlu banyak drama-drama.  
Kedua, tipe cerdas dan humanis.  Contohnya dirut perusahaan agrikultur itu. Gagasannya tentang bisnis tidak sekadar memburu laba, tetapi selalu menghubungkannya dengan manfaat bagi lingkungan dan kemanusiaan.  Dia mampu meyakinkan kami tentang gagasan dan cara pandangnya bukan sekadar pencitraan. Secara tegas dia berani mengatakan bahwa model pengelolaan organisasi pada masa depan adalah bagaimana perusahaan mengurangi penguasaan atas lahan dan alat produksi. Pekerja harus diberi hak atas lahan dan berproduksi. Perusahaan hanya mendistribusikan produk ke pasar seluas-luasnya.
Ketiga, tipe teknis. Wawancara dengan tipe ini, obrolan lebih banyak berputar kepada teknis produksi, efisiensi, dan target. Trik-trik menyatukan visi perusahaan dan pekerja. Orientasinya meningkatkan kemampuan produksi. Jarang menyinggung soal dampak buruk industri kepada lingkungan. Hampir tak menyinggung soal gagasan mengelola limbah industrinya.       
Pengerjaan buku kumpulan profil presiden direktur ini adalah proyek sebuah perusahaan media.  Seorang kawan yang menjadi pilot project buku ini mengajak aku bergabung. Kami memulai pengerjaan proyek ini sejak akhir April lalu. Seharusnya proses pengumpulan data, wawancara narasumber, dan penulisan rampung pertengahan Juni. Tetapi sampai akhir Ramadan lalu, kami baru berhasil menuliskan separuhnya. Hambatan utamanya  jadwal yang padat sang presiden direktur. Kadang jadwal yang sudah disepakati, mendadak dibatalkan dan dijadwal ulang hanya beberapa jam sebelum wawancara. Alhasil kami yang sudah berpanas-panas menembus kemacetan Jakarta untuk sampai ke sang presiden direktur punya kantor, harus balik lagi.
Kadang kami harus wawancara dua presiden direktur dalam waktu yang berhimpitan. Artinya kami kudu mampu membatasi waktu wawancara demi mengejar wawancara dengan dirut berikutnya. Ini jelas sangat menguji kelihaian kami mengarahkan dan menyiasati jalannya wawancara supaya lebih ringkas tanpa kehilangan topik penting atau menimbulkan ketaknyamanan sang narasumber ketika kami harus memotong pembicaraannya.
Sejujurnya, terlibat dalam proyek ini memberiku banyak pelajaran. Bukan hanya terkait kisah perjalanan seseorang mencapai posisi tertinggi sebuah lembaga bisnis, tapi juga merangkai pembicaraan mereka menjadi cerita menarik. Yang terakhir ini karena aku bekerja dengan editor bahasa yang sangat mumpuni.
Kabar jeleknya, selama mengerjakan proyek ini, aku tak sempat menulis resensi, cerpen, dan melanjutkan penulisan novel, dan apdet blog. Tapi syukurnya masih sempat membaca novel. Biasanya kulakukan kala jemu atau saat menunggu presiden direktur siap diwawancara. Dua novel yang menemaniku selama mengerjakan proyek ini adalah ‘Mata Hari’ Remmy Sylado dan ‘Ke Langit’ Ediruslan Pe Amanriza.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka

Putri Raja dan Babi Hutan