Bersama Kecoa Mengarungi Rahasia Semesta

model oleh Darmayan
“Ah, ada surga, kan? Kalau tidak ada surga, rasanya mengecewakan sekali, sudah hidup lama-lama dan melelahkan seperti ini dan tidak mendapatkan pembalasan apa-apa.”

“Siapa yang tahu? Rasanya capek sekali juga, kan, kalau habis mati, kau masih harus hidup lagi? Mau di mana juga;  surga kek neraka kek; hidup ya hidup saja. Terus kalau kau bosan hidup di sana, kau bisa apa?  Tidak bisa mati, kau kan sudah mati. Nah, terus, orang-orang yang di neraka itu; bagaimana mereka? Di neraka terus saja, selamanya? Mampuslah sudah. Hmmm, sepertinya lebih asyik kalau bisa mati dan sudah, mati saja. Tapi, jangan bilang-bilang orang lain. Kalau kedengaran aku bilang begini, aku akan digantung di menara jam dan dituduh tidak bertuhan….” (hal 119).

Percakapan antara kakek penjaga toko sepatu dengan seorang anak muda bermantel tebal  yang menyoal isu kehidupan setelah kematian yang saya kutip di atas, itulah percakapan yang menegaskan simpul novel “Semua Ikan di Langit”: kemaharahasiaan yang menyelimuti semesta. Sebuah realitas yang bersembunyi dari jamahan kerja nalar. Percakapan itu tidak terjadi di ruang kuliah atau di ruang-ruang akademis, melainkan di toko sepatu dan dalam situasi santai. Sama sekali tidak ada perdebatan yang saling membela argumennya masing-masing. 

Isu tentang ada tidaknya kehidupan setelah kematian menjadi perdebatan abadi antara kaum agamawan dan kaum atheis. Kaum agamawan percaya bahwa Tuhan akan menghitung semua perbuatan manusia dan kelak dalam kehidupn setelah mati akan memberi balasan. Kaum atheis menolak kehidupan setelah kematian karena tidak dapat dibuktikan oleh nalar.

Novel pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016  karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie secara selintas menjamah perdebatan tentang surga dan neraka. Percakapan kemudian merembet ke soal kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Perihal topik ini pun merupakan perdabatan abadi di kalangan sesama kaum beriman.
Sebagian mereka percaya tidak ada campur tangan Tuhan dalam sejarah manusia. Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya. Sebagian yang lain meyakini segala tindakan manusia sudah ditentufkan oleh Tuhan. Ada pendapat yang moderat; kehendak Tuhan dan upaya manusia berkelindan. Pertanyaannya, kehendak siapa yang paling menentukan? Ini pertanyaan yang mungkin tak akan pernah terjawab.
Alih-alih berusaha menjawab, “Semua Ikan di Langit” makin ‘menyesatkan’ pembaca dengan berbagai pernyataan dan pertanyaan atas rahasia-rahasia yang melingkupi semesta. …Tapi kegelapan di atas kepalanya itu tidak seperti langit malam yang menenangkan, tetapi memberi gambaran bahwa seperti itulah dunia sebelum diciptakannya cahaya. (Hal 213).

Semesta rahasia itu dibawanya mengarungi kehidupan luar angkasa yang penuh kemustahilan, melintasi dimensi ruang dan waktu. Pertanyaan dan pernyataan filosofis bertebaran di novel ini, seakan hendak mengingatkan bahwa banyak yang rahasia dan kemustahilan yang tidak akan terjawab, dan memang tak perlu dijawab. Cukuplah menjadi kesadaran. Karena kadang jawaban yang diberikan tidak akan sebesar pertanyaannya.

Kemustahilan-kemustahilan
Kemustahilan itu dimulai dari bus yang gendut, si penutur novel ini. Bus jurusan Dipatiukur-Leuwipanjang ini suatu hari pindah trayek baru: mengelilingi ruang angkasa bersama seseorang yang disebut Beliau yang senantiasa dikerubungi ikan-ikan yang terbang melayang-layang mengiringiya. Novel ini memang beraroma fiksi sains, karena tidak menjelaskan argumen-argumen nalarnya, seperti film-film fiksi sains Hollywood; bagaimana sebuah bus kota jurusan Dipatiukur-Leuwipanjang mendadak pindah trayek secara ekstrem mengarungi luar angkasa.

Bus gendut berteman dengan Nadezhda, kecoa dari Rusia, juga seekor kucing angkasa luar bernama Chiro. Di luar angkasa mereka bertemu pengalaman baru melihat benda-benda dan orang-orang yang memiliki rahasia yang tak perlu dipahami karena mereka adalah rahasia itu sendiri; realitas yang bersembunyi dari jamahan akal. Bagaimanakah nalar dapat menyentuh pohon yang paling besar di luar angkasa bernama Chinar?

“Semua Ikan di Langit” hanya perlu dinikmati; yaitu menikmati fantasi seliar-liarnya. Maka simak saja lontaran dialog-dialog filosofis antara bus gendut dengan kecoa Rusia, dengan kucing angkasa luar. Dialog mengomentari kisah para penumpang yang disadap melalui kaki-kaki mereka ketika menapak kabin bus. Maka dalam dunia fantasi serupa itu tak ada lagi keajaiban-keajaiban. Karena apa saja dapat terjadi. Pembaca hanya perlu menikmati tidak memahami. Mungkin saja Beliau adalah penguasa jagat raya, kaum beriman menyebutnya Tuhan, mungkin juga bocah lelaki yang muncul di tengah lautan tak lain merupakan jelmaan iblis yang menghancurkan si bus gendut dan semua isinya.  

Alur novel ini bergerak lurus, melayang-layang, mengombang-ambing pembaca. Mendarat dari satu fantasi ke fantasi lainnya. Tak pernah menyentuh dataran, persis seperti kaki Beliau yang seakan menjejak bumi padahal mengambang dikerubungi oleh ikan-ikan yang menjelma jadi seperti sepatu Beliau. Kadang alur bergerak melalui deskripsi tokoh-tokohnya. Mengenai Beliau, misalnya, dipaparkan hingga tiga bab.
Petualangan bus gendut berakhir ketika bertemu dengan seorang bocah lelaki yang berhasrat menghancurkan bus dan seluruh penumpang di dalamnya. Tetapi kehancuran kemudian merupakan pintu masuk kepada kehidupan baru.  

Lintas jender
Cara Ziggy menuturkan kisah memang agak keluar dari kebiasaan. Ia tidak mengejar cerita untuk memuaskan pembaca biasa. Meskipun menggunakan benda mati sebagai tokoh utama sekaligus penutur bukan barang baru dalam penulisan novel, tetapi dengan berpikirnya yang unik, membuat benda mati itu berdenyut. Bagi saya, fantasi yang disodorkan Ziggy agak meletihkan tetapi pada saat berhimpitan memberi kesenangan. Untungnya kesenangan itu lebih banyak dibanding keletihan saya membacanya.   

Cara bertutur novel ini yang menarik adalah kehendak untuk membebaskan perspektif novel ini dari mengacu kepada salah satu jender. Menggunakan sebuah bus sebagai penutur misalnya, menjadi siasat yang jitu. Kehendak tersebut malah diungkapkan secara verbal. Saya tidak bisa lagi menyebut mahkluk ini sebagai “anak lelaki”. Menyebut sesuatu yang sangat menjijikkan seperti ini sebagai “anak lelaki” adalah cemoohan bagi anak-anak, lelaki, anak lelaki, manusia pada umumnya, juga pada Beliau yang sudah begitu menyayangi manusia hingga memberikan bentuk yang bagus bagi mereka. (hal 230).

Saat menghadapi kehancurannya, bus gendut dalam rintihannya mengatakan: Saya mencintai Beliau. Lebih dari segalanya di dunia ini, dan di seluruh dunia lain yang ada, pernah ada, dan akan ada. Dunia lain yang pernah ada dan akan ada adalah rahasia paling indah. Dunia yang bebas dari sekat-sekat kategori.


Judul:  Semua Ikan di Langit • Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie • Penerbit:  Grasindo •  Cetakan:  I, Februari  2017 • Tebal : 259 halaman • ISBN: 9786023758067

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka